Liputan Bincang “Tatalaksana Risiko Kesehatan terkait Lingkungan Kerja”

“Seringkali kita tidak menghubungkan gejala sakit yang kita rasakan dengan penyebab penyakit yang mungkin berasal dari tempat kerja,” begitulah salah satu paparan yang disampaikan oleh dr. Muchtaruddin Mansyur pada bincang singkat mengenai Tatalaksana Risiko Kesehatan terkait Lingkungan yang diadakan di UPT Pelayanan Kesehatan-Bumi Medika Ganesa, pada 3 Mei 2012 yang lalu.

 

Pada kesempatan itu, dr. Muchtaruddin menjelaskan mengenai potensi bahaya yang berasal dari tempat kerja, dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir atau mengeliminasi bahaya tersebut. Menurut beliau, pengenalan jenis bahaya, penilaian pajanan bahaya, dan karakterisasi resiko adalah tiga langkah utama yang pertama kali perlu dilakukan. Hasil dari ketiga langkah ini kemudian menjadi dasar untuk menentukan prioritas penyelesaian resiko potensi bahaya mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Analisis yang perlu dilakukan meliputi proses kegiatan, bahan-bahan yang digunakan untuk kegiatan, produk yang dihasilkan –termasuk hasil samping -, dan limbah yang dihasilkan.  Penilaian pajanan bahaya termasuk konsentrasi pajanan, frekuensi, dan durasi kerja, serta jenis aktivitas kerja (ringan, sedang, atau berat) juga dilakukan.

 

Terkadang, orang tidak menghubungkan penyakit yang dideritanya dengan penyebab yang mungkin berasal dari tempat kerja. Penyebab penyakit juga tidak terbatas hanya pada paparan bakteri, jamur, atau virus, tapi juga dari hal lain seperti posisi tubuh saat bekerja (ergonomi), alat yang sering digunakan untuk melakukan jenis pekerjaan tertentu (misalnya, alat yang menghasilkan getaran, bila digunakan terlalu sering dapat menyebabkan tangan atau kaki terasa kebas atau kesemutan), bahkan kondisi psikososial di tempat kerja (hubungan antara atasan dan bawahan, antar sesama rekan kerja) juga dapat memberikan efek tertentu bagi kondisi psikologi seseorang. Tidak heran bila tekanan psikososial ini dapat menyebabkan  penyakit psikosomatik (penyakit yang tidak ada penyebab yang jelas secara medis), atau memunculkan kebiasan buruk seperti merokok, minum alkohol, bahkan timbul kecenderungan berperilaku agresif.

 

Oleh karena itu, untuk menunjang pengawasan resiko kesehatan terkait lingkungan di tempat kerja, perlu dilakukan pengawasan medis dan biologis. Pengawasan ini harus dapat menghubungkan antara gejala yang muncul dengan penyebab penyakit, upaya yang harus dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian tersebut terulang di kemudian hari. Pengawasan yang dilakukan termasuk pengawasan pra-kerja, pengenalan potensi bahaya, dan dokumentasi hasil pengawasan.

 

Dengan adanya pengawasan ini , lingkungan kerja dapat menjadi lebih kondusif dan produktivitas kerja akan semakin meningkat. Oleh karena itu, kenali hal-hal yang dapat memicu resiko munculnya penyakit di tempat kerja, dan catat serta laporkan kepada badan terkait di tempat kerja Anda.

 

Berita Terkait